BATU BARA , perisainusantaramedia.id
Indonesia sedang membangun fondasi industri aluminium yang kokoh, dan INALUM menjadi pelaku utamanya. Dua proyek strategis nasional — Pabrik Alumina SGAR 2 dan Smelter Aluminium 2 — bukan sekadar penambahan kapasitas produksi, melainkan lompatan besar menuju kemandirian dan kekuatan hilirisasi mineral nasional.
Saat ini INALUM memproduksi sekitar 275 ribu ton aluminium primer per tahun. Hadirnya Smelter 2 dengan kapasitas 600 ribu ton aluminium per tahun akan mendorong total kapasitas melonjak lebih dari tiga kali lipat. Sementara SGAR 2 akan menambah kapasitas alumina sebesar 1 juta ton per tahun, menggandakan kapasitas yang ada. Keduanya saling melengkapi — dari bauksit menjadi alumina, lalu menjadi aluminium — rantai nilai yang semakin tertutup dan mandiri.
S&P Global Ratings dalam laporannya menilai pengembangan kedua proyek ini mendapat dukungan kuat dari induk perusahaan dan pemegang saham utama, mencerminkan kepentingan strategis nasional yang tinggi. Proyeksi hingga 2030, ekspansi ini berpotensi meningkatkan kapasitas dan pendapatan INALUM secara signifikan, sekaligus mengurangi ketergantungan impor bahan baku yang selama ini menjadi kelemahan industri dalam negeri.
“Pengembangan SGAR 2 dan Smelter 2 tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas tetapi juga untuk memperkuat kemandirian bahan baku, daya saing industri aluminium nasional serta menciptakan nilai jangka panjang bagi Indonesia,” tegas Direktur Utama INALUM, Melati Sarnita.
Dengan fondasi keuangan yang diperkuat peringkat internasional, didukung energi bersih dan efisien, serta diiringi ekspansi proyek strategis — INALUM sedang meletakkan batu bata demi batu bata untuk masa depan industri aluminium Indonesia yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan.
