Kuala Tanjung, perisainusantaramedia Di balik keberhasilan INALUM meraih peringkat kredit internasional ‘BBB-‘ dari S&P Global Ratings, terdapat satu keunggulan yang tak bisa dipisahkan dari daya saing perusahaan: energi listrik tenaga air. S&P Global secara khusus menyoroti pemanfaatan sumber energi hidro yang tidak hanya menekan biaya operasional, tetapi juga menjadikan smelter INALUM lebih ramah lingkungan dan rendah emisi karbon — sejalan dengan prinsip ESG dan hilirisasi berkelanjutan.
Struktur biaya operasional INALUM tercatat berada di kuartil pertama kurva biaya global, jauh lebih efisien dibandingkan rata-rata industri dunia pada 2026. Efisiensi ini didukung oleh pasokan energi hidro yang stabil serta integrasi bahan baku domestik. Di tengah dinamika harga aluminium dunia yang fluktuatif, keunggulan biaya ini menjadi benteng sekaligus jaminan keberlanjutan produksi.
Kini INALUM mengoperasikan smelter aluminium primer dengan kapasitas sekitar 275 ribu ton per tahun. Melalui kepemilikan mayoritas di PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), INALUM telah berhasil mengatasi ketergantungan impor bahan baku alumina — BAI mengoperasikan Smelter-Grade Alumina Refinery di Mempawah, Kalimantan Barat, berkapasitas 1 juta ton alumina per tahun.
Kombinasi energi bersih + biaya efisien + bahan baku mandiri menjadi resep kuat yang menjadikan INALUM bukan hanya kompetitif secara harga, melainkan juga pemimpin dalam praktik industri rendah karbon. Saat dunia semakin beralih ke ekonomi hijau, keunggulan ini menempatkan INALUM di posisi strategis untuk menyumbang pada target penurunan emisi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok aluminium global.
